Kamis, 10 Januari 2013

Replika Teori Interaksi Simbolik Rumah Wakil Rakyat



Replika Teori Interaksi Simbolik
"Ini cuma orang-orang yang elite yang paham yang bisa membahas ini, rakyat biasa nggak bisa dibawa. Kalau rakyat biasa dibawa memikirkan bagaimana perbaikian sistem, bagaimana perbaikan organisasi, bagaimana perbaikan infrastruktur, rakyat biasa pusing pikirannya (http://www.detiknews.com)." Demikianlah pernyataan Ketua DPR, Marzuki Alie beberapa waktu lalu mensikapi protes yang dilayangkan sejumlah pihak atas rencana DPR untuk membangun gedung baru yang menelan dana trilyunan rupiah.

Rencana pembangunan gedung DPR tersebut akhir-akhir ini menjadi polemik  di tengah masyarakat. Ada sebagian kalangan yang setuju  dengan usulan tersebut, dengan sejumlah alasan mereka. Mereka mengatakan gedung tersebut sudah terlalu tua karena dibangun tahun 1962, pada masa orde lama. Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa biaya perawatan gedung tersebut lebih besar dibandingkan jika mereka mempunyai gedung baru.

Semantara kelompok yang tidak setuju berpendapat bahwa membangun gedung yang megah tentu sebuah ide yang brilian, hebat, dan visioner. Hanya persoalannya, selama ini para wakil rakyat tersebut belum bekerja dengan hasil yang memuaskan masyarakat yang di wakili. Alih-alih menghasilkan kebijakan yang populis, banyak perilaku mereka yang justru melukai hati rakyat yang diwakili. Beberapa diantara mereka sering absen saat sidang, ada yang hobinya menghambur-hamburkan uang untuk jalan-jalan ke luar negeri, sebagian lagi sibuk dengan proyek pribadi, sebagian yang lain tersandung kasus hukum, dan tearkhir ada diantara mereka yang menonton film porno saat sidang paripurna. Sehingga wajarn ketika sebagian masyarakat menolak usul DPR  untuk membangun baru tersebut. Namun, Ketua DPR tetap ngotot dengan rencananya. Mengapa bisa demikian?

Tulisan di bawah ini akan menjelaskan kasus di atas dengan paradigma narratif. Teori Paradigma Naratif  Walter Fisher mengemukakan bahwa manusia adalah seorang pencerita dan bahwa pertimbangan akan nilai, emosi, dan estetika menjadi dasar keyakinan dan perilaku kita. Dengan kata lain kita akan lebih mudah terbujuk oleh suatu cerita yang bagus daripada sebuah argumen yang baik.

Teori paradigma naratif ini dibangun berdasar sejumlah asumsi. Fisher memperlihatkan paradigma naratif sebagai penggabungan logika dan estetika, dan menekankan bahwa logika naratif berbeda dari logika dan pemikiran tradisional.

Paradigma Narratif
a)            Manusia adalah makhluk pencerita.
b)            Pengambilan keputusan dan komunikasi didasarkan pada “pertimbangan yang sehat”.
c)            Pertimbangan yang sehat ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter. Rasionalitas didasarkan pada kesadaran orang tentang bagaimana sebuah cerita konsisten secara internal dan benar sebagaimana pengalaman hidup yang dijalani.
d)           Dunia dialami oleh orang sebagai sebuah kumpulan cerita yang harus dipilih salah satunya.

Paradigma Dunia Rasional
1.            Manusia adalah makhluk rasional.
2.            Pengambilan keputusan didasarkan pada argumen.
3.            Argumen mengikuti kriteria khusus untuk mencapai pertimbangan yang sehat dan logika.
4.            Rasionalitas didasarkan pada kualitas pengetahuan dan proses pemikiran formal.
5.            Dunia dapat direduksi menjadi sebuah rangkaian hubungan logis yang disingkap melalui pemikiran logis.
Ada lima asumsi yang dikemukakan Fisher (1987) untuk mendukung paradigmanya :
1.      Manusia pada dasarnya adalah makhluk pencerita
Fischer (1987) mengatakan bahwa manusia merupakan homo narrans sebagai metafora untuk menjelaskan kemanusiaan. Cerita merupakan hal mendasar dalam hidup yang mempengaruhi, menggerakkan, dan membentuk dasar keyakinan  dan tindakan kita. Dalam berkomunikasi dengan dengan pihak lain, manusia juga memposisikan dirinya sebagai pencerita tersebut. Fischer memunculkan asumsi demikian karena berdasar pengamatannya naratif bersifat universal, ditemukan dalam semua budaya dan periode waktu.
Dalam hal ini Elkins (dalam Turner, 2008) mengatakan bahwa manusia pada dasarnya menggunakan cerita dalam semua aspek kehidupan keseharian kita, untuk menghabiskan waktu, menyampaikan informasi, untuk menempatkan diri di sebuah tempat, keluarga, dan komunitas.
Dalam cerita di atas, pada dasarnya rencana dan keputusan ketua DPR dan beberapa anggotanya untuk membangun gedung DPR di dasarkan pada cerita yang sedang dia buat, yang merupakan representasi dari nilai, emosi, dan estetika yang dimilikinya.

2.      Keputusan mengenai harga dari sebuah cerita didasarkan pada “pertimbangan sehat”.
Yang dimaksud pertimbangan yang sehat adalah individu membuat keputusan mengenai cerita mana yang akan diterima dan mana yang ditolak berdasarkan apa yang masuk akal bagi dirinya. Asumsi ini memberitahu kepada kita bahwa tidak semua cerita itu sama atau sebanding dalam hal efektivitasnya, sebaliknya faktor dalam pemilihan cerita di buat berdasarkan alasan-alasan yang bersifat personal dibanding daripada berdasarkan pemikiran yang logis
Semua orang mempunyai kapasitas untuk menjadi rasional dalam paradigma narratif. Karena ukuran rasionalitas dalam paradigma narratif berbeda dengan ukuran rasionalitas tradisional yang mendasarkan pada logika formal. Setiap orang mengambil keputusan-keputusan hidup menganggap cara berfikirnya logis dan rasional menurut ukuran personal orang bersangkutan.
Asumsi ini bisa menjelaskan alasan mengapa Ketua DPR ngotot dengan pendapatnya untuk membangun gedung DPR. Dia mempunyai argumen-argumen yang sifatnya personal bahwa gedung DPR harus dibangun karena rencana itu sangat masuk akal bagi dirinya. Rencana itu sangat logis dan rasional. Dia mempunyai sejumlah argumen personal yang ia yakini semua argumen-argumen tersebut benar. Sebaliknya, mereka yang berbeda pendapat menganggap bahwa rencana tersebut sangat tidak logis dan rasional. Selama ini anggota DPR belum secara maksimal memwakili rakyat dengan membuat berbagai legislasi yang prorakyat, sehingga rakyat masih terus menerus dalam belitan berbagai masalah, tetapi mereka justru ingin membangun gedung DPR yang megah.
3.      Pertimbangan yang sehat ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter
Asumsi ini memperjelas bahwa ukuran rasionalitas manusia itu tidak sama satu sama lain. Masing-masing orang mempunyai ukuran dan jenis rasionalitasnya sendiri. Munculnya rasionalitas tertentu pada seseorang tergantung konteks di mana mereka terikat. Sehingga karenanya, ketika anggota DPR mengganggap gedung DPR layak di bangun itu karena mereka mengganggap pembangunan gedung DPR tersebut lebih relevan dengan nilai pribadinya, dibanding soal-soal rakyat. Proses sehingga mereka sampai pada kesimpulan semacam itu semata didasarkan pada logika-logika berfikir mereka dan logika tersebut tidak terikat pada kaidah logika formal yang ada.
4.      Rasionalitas didasarkan pada penilaian orang mengenai konsistensi dan kebenaran sebuah cerita. Orang akan mempercayai sebuah cerita selama cerita tersebut terlihat konsisten secara internal dan dapat dipercaya. Yang perlu digarisbawahi di sini bahwa rasionalitas yang dimaksud dalam paradigma narratif ini berbeda dengan rasionalitas tradisional. Sebuah cerita dikatakan runtut ketika pencerita tidak meninggalkan detail-detail yang penting atau mengkontradiksi elemen-eleman dalam cerita dengan cara apapun.
Sebagian masyarakat tidak setuju dengan pembangunan gedung DPR karena mereka melihat yang DPR lakukan tersebut tidak konsisten dengan perilaku mereka yang lain. Masyrarakat tidak menemukan deatil-detail dari elemen-elemen cerita yang mereka sodorkan, sehingga mereka tidak mempunyai bangunan cerita utuh tentang rencana dan proses pembangunan gedung DPR. Yang ditemukan masyarkat justru adanya kontradiksi-kontradiksi antara hal yang ideal dari DPR dengan kenyataan yang ada. Selama ini, masyarakat menilai bahwa keberadaan anggota DPR di senayan tersebut belum memwakili dan membantu masyarakat secara nyata. Banyak hal yang mereka lakukan justru melukai hati masyarakat. Sehingga karenanya, ketika mereka kemudian merencanakan untuk membangun DPR itu bertentangan dengan logika cerita yang ada dalam benak masyarakat.
5.      Kita mengalami dunia sebagai dunia yang diisi dengan cerita, dan kita harus memilih dari cerita yang ada, dan ketika kita memilih cerita-cerita tersebut, kita akan mengalami kehidupan secara berbeda, juga  memungkinkan untuk menciptakan ulang kehidupan kita. Dalam kasus gedung DPR, anggota DPR sebenarnya mempunyai banyak alternatif cerita yang dapat ia pilih. Ketua DPR bisa memilih tetap melanjutkan ceritanya membangun gedung DPR dengan dana Trilyunan rupiah, atau membangun gedung baru DPR dengan alternatif biaya yang lain, atau tidak membangun gedung baru dan sebagainya.
Konsep Kunci dalam Pendekatan Narratif
Fisher memperkenalkan beberapa konsep kunci untuk memperjelas paradigma yang dibangunnya.  Beberapa konsep kunci yang membentuk inti dari kerangka pendekatan naratif,  yaitu:
Narasi, adalah deskripsi verbal atau nonverbal apapun dengan urutan kejadian yang oleh para pendengar diberi makna. Fisher mengatakan bahwa semua kehidupan disusun dari cerita-cerita atau naratif. Ketika kita sedang mendengarkan seseorang berbicara, ketika ketua DPR sedang menjelaskan alasannya ngotot untuk membangun gedung DPR, ketika kita menonton televisi, mendengarkan radio, membuat tulisan dan sebagainya.
Rasionalitas naratif, adalah standar untuk menilai cerita mana yang dipercayai dan mana yang diabaikan. Rasionalisasi naratif mempunyai perbedaan pola penilaian dengan rasionalitas tradisional. Pengujian rasionalitas tradisional mencakup apakah klaim-klaim sesuai dengan fakta aktual, apakah argumen-argumennya konsisten secara internal, dan apakah semua fakta yang relevan telah dipertimbangkan. Sementara rasionalitas naratif beroperasi berdasarkan dua prinsip, yaitu : koherensi dan kebenaran.
Koherensi, adalah konsistensi internal dari sebuah naratif. Tiga tipe konsistensi dalam koherensi, yaitu: Koherensi struktural, berpijak pada tingkatan di mana elemen-elemen dari sebuah cerita mengalir dengan lancar. Ketika cerita dibuat komunikator membingungkan, satu bagian tidak tersambung dengan bagian yang lain dan alurnya tidak jelas.
Koherensi material, merujuk pada tingkat kongruensi antara satu cerita dengan cerita lainnya yang sepertinya berkaitan dengan cerita tersebut. Misalnya, ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa anggota DPR akan terus meneruskan rencana proyeknya membangun gedung DPR, kemudian ada satu cerita yang mengatakan ia akan membatalkan satu rencana tersebut, maka orang akan cenderung untuk tidak mempercayai satu cerita yang berbeda tersebut.
Koherensi karakterologis, merujuk pada dapat dipercaya karakter-karakter di dalam sebuah cerita. Misalnya dalam kasus anggota DPR, kita sering mendengar pernyataan-pernyataannya yang seringkali anti kepentingan rakyat, dan cenderung memunculkan gagasan-gagasan yang membela institusi parlemen, maka kita kurang bisa percaya bahwa ketua DPR ini sebagai wakil rakyat.
Kebenaran, adalah reliabilitas dari sebuah cerita. Cerita yang mempunyai unsur kebenaran di dalamnya akan terdengar seperti sungguh-sungguh bagi pendengarnya. Sebuah cerita dikatakan benar menurut Fischer ketika elemen-elemen dalam sebuah cerita “merepresentasikan pernyataan-pernyataan yang akurat mengenai realitas sosial”.
Dalam kasus pembangunan gedung DPR, masyarakat kurang bisa menerima rencana dan gagasan tersebut, karena cerita yang dibangun oleh anggota DPR tidak secara akurat merepresentasikan realitas sosial yang ada.
Logika dengan pertimbangan yang sehat, adalah sebuah rangkaian prosedur yang secara sistematis yang akan membantu di dalam analisis dan penilaian sebuah elemen pertimbangan dalam interkasi retoris. Sebuah cerita dikatakan mempunyai logika dengan pertimbangan yang sehat ketika cerita tersebut didasari pada seperangkat nilai untuk menerima suatu cerita sebagai benar dan berharga untuk diterima. Ini berarti bahwa apapun yang mendorong orang untuk percaya sebuah naratif tergantung pada nilai atau konsepsi yang menurutnya baik.
Polemik yang muncul antara anggota DPR yang setuju dan yang tidak dengan pembangunan gedung DPR karena mereka menganut logika dengan pertimbangan yang sehat berbeda. Masing-masing kelompok mempunyai konsepsi nilai sendiri  mengenai wakil rakyat, gedung DPR, dan pada hal yang lainnya yang kebetulan satu sama lain saling berseberangan. Perbedaan dalam hal logika ini kemudian menuntun mereka untuk menciptakan cerita sendiri-sendiri, yang kemudian berbenturan satu sama lain, sehingga kemudian lahir perdebatan diantara mereka.



Daftar Pustaka
West, R. & Turner, L.H. (2008) Pengantar Teori Komunikasi : Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika

Marzuki: Cuma Elite yang Bisa Bahas Gedung Baru DPR, Rakyat Biasa Tak Bisa. Berita. Di download dari : http://www.detiknews.com diakses pada tanggal 1 November 2012

Sartana. Rumah Megah WakilRakyat.http://kacamatasartana.blogspot.com/2011/05/rumah-megah-wakil-rakyat.html. diakses pada tanggal 1 November 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar