Replika Teori Interaksi Simbolik
"Ini
cuma orang-orang yang elite yang paham yang bisa membahas ini, rakyat biasa
nggak bisa dibawa. Kalau rakyat biasa dibawa memikirkan bagaimana perbaikian
sistem, bagaimana perbaikan organisasi, bagaimana perbaikan infrastruktur,
rakyat biasa pusing pikirannya (http://www.detiknews.com)." Demikianlah pernyataan
Ketua DPR, Marzuki Alie beberapa waktu lalu mensikapi protes yang dilayangkan
sejumlah pihak atas rencana DPR untuk membangun gedung baru yang menelan dana
trilyunan rupiah.
Rencana pembangunan gedung DPR tersebut akhir-akhir ini menjadi polemik di tengah masyarakat. Ada sebagian kalangan yang setuju dengan usulan tersebut, dengan sejumlah alasan mereka. Mereka mengatakan gedung tersebut sudah terlalu tua karena dibangun tahun 1962, pada masa orde lama. Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa biaya perawatan gedung tersebut lebih besar dibandingkan jika mereka mempunyai gedung baru.
Semantara
kelompok yang tidak setuju berpendapat bahwa membangun gedung yang megah tentu
sebuah ide yang brilian, hebat, dan visioner. Hanya persoalannya, selama ini
para wakil rakyat tersebut belum bekerja dengan hasil yang memuaskan masyarakat
yang di wakili. Alih-alih menghasilkan kebijakan yang populis, banyak perilaku
mereka yang justru melukai hati rakyat yang diwakili. Beberapa diantara mereka
sering absen saat sidang, ada yang hobinya menghambur-hamburkan uang untuk
jalan-jalan ke luar negeri, sebagian lagi sibuk dengan proyek pribadi, sebagian
yang lain tersandung kasus hukum, dan tearkhir ada diantara mereka yang
menonton film porno saat sidang paripurna. Sehingga wajarn ketika sebagian
masyarakat menolak usul DPR untuk
membangun baru tersebut. Namun, Ketua DPR tetap ngotot dengan rencananya.
Mengapa bisa demikian?
Tulisan
di bawah ini akan menjelaskan kasus di atas dengan paradigma narratif. Teori
Paradigma Naratif Walter Fisher
mengemukakan bahwa manusia adalah seorang pencerita dan bahwa pertimbangan akan
nilai, emosi, dan estetika menjadi dasar keyakinan dan perilaku kita. Dengan
kata lain kita akan lebih mudah terbujuk oleh suatu cerita yang bagus daripada
sebuah argumen yang baik.
Teori
paradigma naratif ini dibangun berdasar sejumlah asumsi. Fisher memperlihatkan
paradigma naratif sebagai penggabungan logika dan estetika, dan menekankan
bahwa logika naratif berbeda dari logika dan pemikiran tradisional.
Paradigma Narratif
a)
Manusia adalah makhluk pencerita.
b)
Pengambilan keputusan dan komunikasi
didasarkan pada “pertimbangan yang sehat”.
c)
Pertimbangan yang sehat ditentukan oleh
sejarah, biografi, budaya, dan karakter. Rasionalitas didasarkan pada kesadaran orang tentang
bagaimana sebuah cerita konsisten secara internal dan benar sebagaimana
pengalaman hidup yang dijalani.
d)
Dunia dialami oleh orang sebagai sebuah
kumpulan cerita yang harus dipilih salah satunya.
Paradigma Dunia Rasional
1.
Manusia adalah makhluk rasional.
2.
Pengambilan keputusan didasarkan pada
argumen.
3.
Argumen mengikuti kriteria khusus untuk
mencapai pertimbangan yang sehat dan logika.
4.
Rasionalitas didasarkan pada kualitas
pengetahuan dan proses pemikiran formal.
5.
Dunia dapat direduksi menjadi sebuah
rangkaian hubungan logis yang disingkap melalui pemikiran logis.
Ada
lima asumsi yang dikemukakan Fisher (1987) untuk mendukung paradigmanya :
1.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk
pencerita
Fischer
(1987) mengatakan bahwa manusia merupakan homo narrans sebagai metafora untuk
menjelaskan kemanusiaan. Cerita merupakan hal mendasar dalam hidup yang
mempengaruhi, menggerakkan, dan membentuk dasar keyakinan dan tindakan kita. Dalam berkomunikasi dengan
dengan pihak lain, manusia juga memposisikan dirinya sebagai pencerita
tersebut. Fischer memunculkan asumsi demikian karena berdasar pengamatannya
naratif bersifat universal, ditemukan dalam semua budaya dan periode waktu.
Dalam
hal ini Elkins (dalam Turner, 2008) mengatakan bahwa manusia pada dasarnya
menggunakan cerita dalam semua aspek kehidupan keseharian kita, untuk
menghabiskan waktu, menyampaikan informasi, untuk menempatkan diri di sebuah
tempat, keluarga, dan komunitas.
Dalam
cerita di atas, pada dasarnya rencana dan keputusan ketua DPR dan beberapa
anggotanya untuk membangun gedung DPR di dasarkan pada cerita yang sedang dia
buat, yang merupakan representasi dari nilai, emosi, dan estetika yang
dimilikinya.
2. Keputusan
mengenai harga dari sebuah cerita didasarkan pada “pertimbangan sehat”.
Yang
dimaksud pertimbangan yang sehat adalah individu membuat keputusan mengenai
cerita mana yang akan diterima dan mana yang ditolak berdasarkan apa yang masuk
akal bagi dirinya. Asumsi ini memberitahu kepada kita bahwa tidak semua cerita
itu sama atau sebanding dalam hal efektivitasnya, sebaliknya faktor dalam
pemilihan cerita di buat berdasarkan alasan-alasan yang bersifat personal
dibanding daripada berdasarkan pemikiran yang logis
Semua
orang mempunyai kapasitas untuk menjadi rasional dalam paradigma narratif.
Karena ukuran rasionalitas dalam paradigma narratif berbeda dengan ukuran
rasionalitas tradisional yang mendasarkan pada logika formal. Setiap orang
mengambil keputusan-keputusan hidup menganggap cara berfikirnya logis dan
rasional menurut ukuran personal orang bersangkutan.
Asumsi
ini bisa menjelaskan alasan mengapa Ketua DPR ngotot dengan pendapatnya untuk
membangun gedung DPR. Dia mempunyai argumen-argumen yang sifatnya personal
bahwa gedung DPR harus dibangun karena rencana itu sangat masuk akal bagi
dirinya. Rencana itu sangat logis dan rasional. Dia mempunyai sejumlah argumen
personal yang ia yakini semua argumen-argumen tersebut benar. Sebaliknya,
mereka yang berbeda pendapat menganggap bahwa rencana tersebut sangat tidak
logis dan rasional. Selama ini anggota DPR belum secara maksimal memwakili
rakyat dengan membuat berbagai legislasi yang prorakyat, sehingga rakyat masih
terus menerus dalam belitan berbagai masalah, tetapi mereka justru ingin
membangun gedung DPR yang megah.
3. Pertimbangan
yang sehat ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter
Asumsi
ini memperjelas bahwa ukuran rasionalitas manusia itu tidak sama satu sama
lain. Masing-masing orang mempunyai ukuran dan jenis rasionalitasnya sendiri.
Munculnya rasionalitas tertentu pada seseorang tergantung konteks di mana mereka
terikat. Sehingga karenanya, ketika anggota DPR mengganggap gedung DPR layak di
bangun itu karena mereka mengganggap pembangunan gedung DPR tersebut lebih
relevan dengan nilai pribadinya, dibanding soal-soal rakyat. Proses sehingga
mereka sampai pada kesimpulan semacam itu semata didasarkan pada logika-logika
berfikir mereka dan logika tersebut tidak terikat pada kaidah logika formal
yang ada.
4. Rasionalitas
didasarkan pada penilaian orang mengenai konsistensi dan kebenaran sebuah
cerita. Orang akan mempercayai sebuah cerita selama cerita tersebut terlihat
konsisten secara internal dan dapat dipercaya. Yang perlu digarisbawahi di sini
bahwa rasionalitas yang dimaksud dalam paradigma narratif ini berbeda dengan
rasionalitas tradisional. Sebuah cerita dikatakan runtut ketika pencerita tidak
meninggalkan detail-detail yang penting atau mengkontradiksi elemen-eleman
dalam cerita dengan cara apapun.
Sebagian
masyarakat tidak setuju dengan pembangunan gedung DPR karena mereka melihat
yang DPR lakukan tersebut tidak konsisten dengan perilaku mereka yang lain.
Masyrarakat tidak menemukan deatil-detail dari elemen-elemen cerita yang mereka
sodorkan, sehingga mereka tidak mempunyai bangunan cerita utuh tentang rencana
dan proses pembangunan gedung DPR. Yang ditemukan masyarkat justru adanya
kontradiksi-kontradiksi antara hal yang ideal dari DPR dengan kenyataan yang
ada. Selama ini, masyarakat menilai bahwa keberadaan anggota DPR di senayan
tersebut belum memwakili dan membantu masyarakat secara nyata. Banyak hal yang
mereka lakukan justru melukai hati masyarakat. Sehingga karenanya, ketika
mereka kemudian merencanakan untuk membangun DPR itu bertentangan dengan logika
cerita yang ada dalam benak masyarakat.
5. Kita
mengalami dunia sebagai dunia yang diisi dengan cerita, dan kita harus memilih
dari cerita yang ada, dan ketika kita memilih cerita-cerita tersebut, kita akan
mengalami kehidupan secara berbeda, juga
memungkinkan untuk menciptakan ulang kehidupan kita. Dalam kasus gedung
DPR, anggota DPR sebenarnya mempunyai banyak alternatif cerita yang dapat ia
pilih. Ketua DPR bisa memilih tetap melanjutkan ceritanya membangun gedung DPR
dengan dana Trilyunan rupiah, atau membangun gedung baru DPR dengan alternatif
biaya yang lain, atau tidak membangun gedung baru dan sebagainya.
Konsep
Kunci dalam Pendekatan Narratif
Fisher memperkenalkan beberapa konsep
kunci untuk memperjelas paradigma yang dibangunnya. Beberapa konsep kunci yang membentuk inti
dari kerangka pendekatan naratif, yaitu:
Narasi, adalah deskripsi verbal atau
nonverbal apapun dengan urutan kejadian yang oleh para pendengar diberi makna.
Fisher mengatakan bahwa semua kehidupan disusun dari cerita-cerita atau
naratif. Ketika kita sedang mendengarkan seseorang berbicara, ketika ketua DPR
sedang menjelaskan alasannya ngotot untuk membangun gedung DPR, ketika kita
menonton televisi, mendengarkan radio, membuat tulisan dan sebagainya.
Rasionalitas naratif, adalah standar
untuk menilai cerita mana yang dipercayai dan mana yang diabaikan.
Rasionalisasi naratif mempunyai perbedaan pola penilaian dengan rasionalitas
tradisional. Pengujian rasionalitas tradisional mencakup apakah klaim-klaim
sesuai dengan fakta aktual, apakah argumen-argumennya konsisten secara internal,
dan apakah semua fakta yang relevan telah dipertimbangkan. Sementara
rasionalitas naratif beroperasi berdasarkan dua prinsip, yaitu : koherensi dan
kebenaran.
Koherensi, adalah konsistensi internal
dari sebuah naratif. Tiga tipe konsistensi dalam koherensi, yaitu: Koherensi
struktural, berpijak pada tingkatan di mana elemen-elemen dari sebuah cerita
mengalir dengan lancar. Ketika cerita dibuat komunikator membingungkan, satu
bagian tidak tersambung dengan bagian yang lain dan alurnya tidak jelas.
Koherensi material, merujuk pada tingkat
kongruensi antara satu cerita dengan cerita lainnya yang sepertinya berkaitan
dengan cerita tersebut. Misalnya, ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa
anggota DPR akan terus meneruskan rencana proyeknya membangun gedung DPR,
kemudian ada satu cerita yang mengatakan ia akan membatalkan satu rencana
tersebut, maka orang akan cenderung untuk tidak mempercayai satu cerita yang
berbeda tersebut.
Koherensi karakterologis, merujuk pada
dapat dipercaya karakter-karakter di dalam sebuah cerita. Misalnya dalam kasus
anggota DPR, kita sering mendengar pernyataan-pernyataannya yang seringkali
anti kepentingan rakyat, dan cenderung memunculkan gagasan-gagasan yang membela
institusi parlemen, maka kita kurang bisa percaya bahwa ketua DPR ini sebagai
wakil rakyat.
Kebenaran, adalah reliabilitas dari
sebuah cerita. Cerita yang mempunyai unsur kebenaran di dalamnya akan terdengar
seperti sungguh-sungguh bagi pendengarnya. Sebuah cerita dikatakan benar
menurut Fischer ketika elemen-elemen dalam sebuah cerita “merepresentasikan
pernyataan-pernyataan yang akurat mengenai realitas sosial”.
Dalam kasus pembangunan gedung DPR,
masyarakat kurang bisa menerima rencana dan gagasan tersebut, karena cerita
yang dibangun oleh anggota DPR tidak secara akurat merepresentasikan realitas
sosial yang ada.
Logika dengan pertimbangan yang sehat,
adalah sebuah rangkaian prosedur yang secara sistematis yang akan membantu di
dalam analisis dan penilaian sebuah elemen pertimbangan dalam interkasi retoris.
Sebuah cerita dikatakan mempunyai logika dengan pertimbangan yang sehat ketika
cerita tersebut didasari pada seperangkat nilai untuk menerima suatu cerita
sebagai benar dan berharga untuk diterima. Ini berarti bahwa apapun yang
mendorong orang untuk percaya sebuah naratif tergantung pada nilai atau
konsepsi yang menurutnya baik.
Polemik yang muncul antara anggota DPR
yang setuju dan yang tidak dengan pembangunan gedung DPR karena mereka menganut
logika dengan pertimbangan yang sehat berbeda. Masing-masing kelompok mempunyai
konsepsi nilai sendiri mengenai wakil
rakyat, gedung DPR, dan pada hal yang lainnya yang kebetulan satu sama lain
saling berseberangan. Perbedaan dalam hal logika ini kemudian menuntun mereka
untuk menciptakan cerita sendiri-sendiri, yang kemudian berbenturan satu sama
lain, sehingga kemudian lahir perdebatan diantara mereka.
Daftar Pustaka
West, R. & Turner, L.H. (2008)
Pengantar Teori Komunikasi : Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika
Marzuki: Cuma Elite yang Bisa Bahas Gedung Baru DPR, Rakyat Biasa Tak Bisa. Berita. Di download dari : http://www.detiknews.com diakses pada tanggal 1 November 2012
Marzuki: Cuma Elite yang Bisa Bahas Gedung Baru DPR, Rakyat Biasa Tak Bisa. Berita. Di download dari : http://www.detiknews.com diakses pada tanggal 1 November 2012
Sartana. Rumah Megah WakilRakyat.http://kacamatasartana.blogspot.com/2011/05/rumah-megah-wakil-rakyat.html.
diakses pada tanggal 1 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar